8 Jam setelah lahir prematur akhirnya bayi yang dilahirkan siswi SD meninggal

By on February 5, 2013
02072011_bayi_prematur

NI WAYAN J, siswi kelas VI SDN Jehem, Bangli, Senin (4/2) malam melahirkan bayi buah pernikahannya dengan Wayan Cidra, pria yang telah beranak dua. Namun bayinya meninggal, delapan jam setelah lahir.Ni Wayan J melahirkan secara normal di RSUD Bangli. Namun, bayi berkelamin perempuan seberat 600 gram yang lahir prematur itu hanya sempat menghirup udara bebas selama delapan jam. Selasa (5/2) kemarin pukul 04.00 wita bayinya meninggal dunia. Atas peristiwa itu, ayah dan ibu bayi malang tersebut menangis sejadi-jadinya di Ruang Kenanga RSUD Bangli.

Bupati Bangli Made Gianyar, S.H., M.Hum. sempat membesuk keduanya di RSUD Bangli. Ni Wayan J jiwanya dinilai masih labil, sehingga pihak RSUD Bangli masih melakukan observasi secara ketat. Sejumlah anggota Polres Bangli juga tampak berjaga-jaga di RSUD Bangli. Wayan Cidra mengaku pasrah atas peristiwa kematian bayinya dan kasus yang membelitnya. Ia memang sangat mengidamkan anak perempuan, karena kedua anak dari istri pertama berjenis kelamin laki-laki. Namun, harapannya itu pupus.

Sementara itu, Bupati Bangli Made Gianyar mengaku sangat prihatin atas kejadian ini. Ia mengharapkan semua masyarakat agar belajar dari kasus yang ada saat ini. Kasihan, mereka yang sudah tua semestinya menjaga masa depan anak-anak. Malah menenggelamkan masa depan anak itu. Apalagi Wayan Cidra jika dilihat dari kehidupan ekonomi rumah tangganya sudah teramat berat. Tetapi justru tanpa berpikir panjang malah makin membebani dirinya dengan persoalan seperti itu. Dua anak, dua istri dan dua orangtua. Hal ini merupakan beban hidup yang sudah berat, namun lebih diperberat lagi dengan hadirnya istri kedua yang masih di bawah umur.

Dirut RSUD Bangli dr. I Wayan Sudiana mengatakan, Ni Wayan J dirujuk menuju RSUD Bangli pukul 16.00 wita bersama suaminya. Saat masuk, petugas langsung melakukan observasi. Hasilnya, Ni Wayan J sudah mengalami bukaan lengkap. Sayangnya, dia belum siap untuk melakukan persalinan. Di samping itu, jika dilihat dari usia kandungan diperkirakan baru enam bulan. Diduga akibat tekanan psikologis yang dialami, membuat pasien banyak pikiran. Selanjutnya melahirkan bayi prematur.Setelah persalinan secara normal dilakukan pukul 20.00 wita, pihaknya melakukan pengawasan secara ketat untuk keduanya. Baik terhadap bayi maupun ibunya yang baru pertama melahirkan. ”Kami sudah berupaya semaksimal mungkin. Namun pada pukul 04.00 wita bayi itu meninggal dunia,” ujarnya

[balipost]